25 November 2015

Kisah ( Bersyukur )


Seorang istri bercerita pada suaminya sambil menahan isak tangis,
"Sungguh sial. Kalung emas pemberianmu tadi dirampok saat belanja di pasar."
Bukannya menenangkan istrinya, si suami malah marah,
"Salah sendiri. Ngapain ke pasar memakai kalung ? Kamu pikir itu kalung murahan ? Kamu pikir uang mudah dicari?"
Sang istripun gak mau kalah,
"Sudah jelas bukan salahku. Perampok berhati kejam itulah yang bersalah. Dari dulu kamu selalu menyalahkanku saja."
"Kalau bukan salahmu, masak salahku? Apa aku yang bersalah karena menghadiahkan kalung emas kepadamu? Dasar istri gak tau diuntung." Jawab suami dengan ketusnya
Mertua yang mendengar pertengkaran semakin sengit akhirnya keluar dari dari dapur dan berkata,
"Sudahlah. Untuk apa kalian bertengkar?
Bagaimana pun kalian bertengkar, kalungnya juga gak akan kembali.
Coba pikir. Kalian sudah rugi dirampok, sekarang malahan tambah rugi karena bertengkar dan sakit hati. Bukankah bodoh
namanya ?
Ambillah hikmahnya dan belajarlah bersyukur dari kejadian ini."
"Bersyukur? Masak sudah dirampok, masih harus bersyukur ? Ma, seharusnya orang bersyukur karena mendapatkan, bukannya kehilangan," bantah anaknya.
Melihat raut wajah mereka, si Ibu itu pun melanjutkan,
"Bersyukur karena bukan kamu yang merampok. Itu tandanya kamu bukan perampok.
Bersyukur hanya kalungmu yang dirampok, bukan seluruh hartamu.
Bersyukur juga bahwa bukan nyawamu yang dirampok.
Bersyukurlah juga bahwa bukan mama yang
dirampok, karena jantung mama pasti tidak kuat.
Bersyukurlah karena kamu telah diberikan pelajaran sebagai pengalaman untuk lebih berhati-hati kedepan.
Bersyukur karena kamu dirampok. Itu tandanya kamu kaya sehingga bisa memberi sesuatu kepada perampok itu dan Bersyukurlah, bahwa mungkin saja kalian sudah membantu seseorang kepepet yang mungkin Sangat membutuhkan uang dari hasil menjual kalung mu .
Sudahlah, apa gunanya bertengkar untuk hal yang sudah berlalu?"
Kunci Kebahagiaan adalah Milik Orang-Orang Yang Dapat BERSYUKUR Setiap Saat Dalam
Kondisi Apapun.

0 komentar:

Categories

al latif. Powered by Blogger.